Temukan berbagai inovasi dan perkembangan terbaru di bidang riset dan teknologi pertanian yang dikembangkan oleh PT Sumber Alam Unggul untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan pertanian Indonesia.

Menakar Potensi Stevia: Tawarkan Harapan Baru Gula Cair Alternatif Ramah Kesehatan

 

    Jombang. 15/10/2025. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat dan ancaman penyakit akibat konsumsi gula berlebih, muncul secercah harapan dari sebuah tanaman hijau mungil bernama Stevia rebaudiana. Tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini kini menjadi sorotan dunia, termasuk Indonesia, karena potensinya sebagai sumber gula alami tanpa kalori yang ramah bagi kesehatan dan menjanjikan dari sisi ekonomi.

 

    Stevia mengandung senyawa pemanis alami bernama stevioside dan rebaudioside A, yang tingkat kemanisannya bisa mencapai 200–300 kali lebih manis dari gula tebu, namun tanpa menambah kadar kalori dalam tubuh. Keunggulan inilah yang menjadikan stevia diminati sebagai bahan dasar pembuatan gula cair alami, terutama bagi masyarakat yang ingin mengurangi asupan gula konvensional (Gula Kristal Putih/GKP) tanpa kehilangan cita rasa manisnya. Dari sisi kesehatan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa stevia tidak memengaruhi kadar gula darah, sehingga aman bagi penderita diabetes dan mereka yang menjalani program diet. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah merekomendasikan konsumsi stevia sebagai pemanis alternatif yang aman digunakan sehari-hari. Selain itu, beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi stevia berpotensi menurunkan tekanan darah tinggi dan memiliki efek antioksidan, yang mampu membantu mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas.  Namun potensi stevia tidak hanya berhenti pada aspek kesehatan. Di balik daunnya yang kecil, tersimpan peluang ekonomi besar yang tengah menunggu untuk digarap secara serius. Permintaan pasar global terhadap stevia terus meningkat seiring dengan tren “sugar reduction” di industri makanan dan minuman. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat telah lebih dulu memanfaatkan ekstrak stevia sebagai pemanis utama dalam minuman ringan, makanan rendah kalori, hingga produk farmasi dan kosmetik.

 

    Indonesia sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah memiliki peluang besar untuk ikut dalam arus perubahan ini. Lahan-lahan di dataran tinggi seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera Utara sangat cocok untuk budidaya stevia. Tanaman ini tumbuh baik di ketinggian 800–1.200 meter di atas permukaan laut dan dapat dipanen setiap 3–4 bulan. Dengan sistem pertanian organik dan teknologi pascapanen yang efisien, petani berpotensi memperoleh pendapatan yang lebih stabil dibanding tanaman konvensional. Selain itu, inovasi pengolahan daun stevia menjadi gula cair alami mulai dikembangkan oleh beberapa lembaga riset dan industri kecil-menengah di tanah air. Melalui proses ekstraksi dan pemurnian, senyawa pemanis stevia dapat diubah menjadi cairan bening yang siap digunakan sebagai pemanis untuk industri makanan, minuman, maupun konsumsi rumah tangga. Nilai tambah inilah yang menjadikan stevia menarik, karena bukan hanya sekadar komoditas pertanian, tetapi juga produk hilir bernilai ekonomi tinggi.

 

       Kehadiran stevia sebagai pemanis alami juga dapat menjadi solusi di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor gula. Produksi gula nasional yang sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan industri, terutama Gula Kristal Putih (GKP), dapat diperkaya dengan inovasi berbasis stevia. Jika dikembangkan secara masif, industri stevia berpotensi menjadi penopang ketahanan pangan nasional sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor agribisnis dan pengolahan hasil pertanian. Kini, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjembatani potensi besar ini dengan dukungan kebijakan pemerintah, investasi riset, dan pendampingan kepada petani serta pelaku UMKM. Dengan kolaborasi yang kuat antara akademisi, industri, dan pemerintah, stevia dapat menjadi emas hijau baru yang tidak hanya menyehatkan masyarakat, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal. Dari daun kecil yang tumbuh di lereng pegunungan, stevia membawa pesan besar bagi bangsa ini: bahwa manisnya kehidupan tidak harus dibayar dengan penyakit, dan bahwa kemakmuran bisa tumbuh dari inovasi yang berpihak pada kesehatan dan alam.